chain

“Kasus ini sebenarnya mudah, hanya saja diplintir sedemikian rupa sehingga terlihat rumit. Bagi saya Jessica sudah pasti pembunuhnya, dihukum mati saja sekalian”, ujar seseorang diujung telepon yang di transmisikan kepada seluruh warga Jakarta lewat radio malam itu. Saya cukup kaget mendengar begitu yakinnya bapak ini berbicara, tiap fakta diuraikannya, seakan dakwaan Jessica Kumala Wongso sudah dipahami betul olehnya. Saya penasaran, siapa orang ini. Sekitar beberapa menit dia berbicara, penyiarpun menjelaskan bahwa orang tersebut ternyata masyarakat yang mengikuti kasus pembunuhan Wayan Mirnah Salihin lewat layar kaca.

Kalau saja menyatakan seseorang bersalah dan menjatuhkan hukuman pidana dilakukan dengan cara pooling masyarakat, tak terbayang begitu mudahnya memenjarakan orang. Untungnya bukan begitu sistem acara hukum pidana di Indonesia dan hampir diseluruh negara di dunia. Ada asas-asas yang harus ditaati. Seorang terdakwa berhak atas fair trial, berhak juga atas kesempatan membela diri, berhak dianggap tidak bersalah sampai diputus sebaliknya, dan sebagainya. Kita bisa tidak setuju terhadap mekanisme ini, namun saya yakin pada saat masing-masing dari kita menjadi terdakwa, pasti beda ceritanya.

Segala bentuk hukuman pidana, setidaknya bagi saya, adalah kejam, sehingga hanya dapat diberikan dengan standar pembuktian yang tinggi.Untuk membuktikan seseorang bersalah melakukan tindak pidana, jaksa harus membuktikan bahwa seluruh dakwaannya terbukti dengan standar Beyond Reasonable Doubt. Ini merupakan prinsip hukum pidana yang sangat fundamental dan berlaku dihampir seluruh negara di dunia ini.

Singkatnya, teori Beyond Reasonable Doubt menegaskan seorang hanya dapat katakan bersalah tanpa ada keraguan sedikitpun akan kebenaran dakwaan. Apabila ada keraguan yang tidak bisa dijawab oleh jaksa, orang tersebut harus dibebaskan, terlepas dia pelakuknya atau tidak. Suka tidak suka, inilah sistem hukum kita. Mengutip kata-kata kata Davis pada film 12 Angry Men “we may be trying to let a guilty man go free, I don’t know. Nobody really can. But we have a reasonable double, and that’s something that’s very valuable in our system. No jury can declare a man guilty unless it’s sure”.

Apakah kita menganut prinsip yang sama? Ya, meskipun dengan istilah yang berbeda. Pasal 183 Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana menyatakan “hakim tidak boleh menjatuhkan putusan pidana kepada seseorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya”. Oleh karena itu, setiap putusan yang menghukum terdakwa, hakim selalu mengatakan “terbukti secara sah dan meyakinkan”, sebagai tanda putusan tersebut lahir dari proses pembuktian tanpa meninggalkan keraguan atau Beyond Reasonable Doubt.

Saya teringat sidang kasus pembunuhan serupa yang terjadi di Perth, Australia tahun 2011 silam. Pada saat itu, seluruh tayangan televisi meliput perkembangan investigasi dan persidangan pembunuhan Corryn Veronica Ann Rayney. Terdakwa pembunuhan tidak lain adalah suaminya sendiri Lyoyd Rayney, yang berprofesi sebagai pengacara. Kasus ini merupakan salah satu kasus pembunuhan yang paling rumit bagi kepolisian dan kejaksaan negara bagian Australia Barat, Australia karena membutuhkan setidaknya empat tahun untuk mempersiapkan kasus ini ke pengadilan. Kejadian pembunuhan itu sendiri terjadi pada tahun 2007, polisi baru menetapkan Lyoyd Rayney sebagai tersangka pada tahun 2010, tiga tahun setelah kejadian. Sedangkan sidang pertama di Supreme Court of Western Australia dilakukan pada tahun 2011.

Dalam dakwaannya jaksa negara bagian Australia Barat mengatakan bahwa Lyoyd Rayney (“Terdakwa”) telah membunuh istrinya, Corryn Veronica Ann Rayney (“Korban”) dengan cara menganiaya dan menguburnya di daerah Kings Park, Perth. Seluruh kronologis sebelum, pada saat, dan setalah kejadian pembunuhan diuraikan oleh jaksa begitu presisi. Uraian waktu pada saat saksi-saksi melihat terakhir kali Korban dan Terdakwa sebelum dan sesudah kejadian seluruhnya bersesuaian. Selain itu, jaksa juga membuktikan perilaku Terdakwa yang suka minum dan berjudi yang berakibat pada tidak harmonisnya hubungan rumah tangga sebagai motif pembunuhan. Dakwaan jaksa pada saat itu berhasil membentuk opini masyarakat untuk meyakini bahwa Lyoyd Rayney sebagai pembunuhnya, meskipun persidangan belum dimulai.

Namun ada satu kekurangan dari dakwaan jaksa, yang membuat kasus ini serupa dengan pembunuhan Wayan Mirna Salihin, yakni tidak ada bukti langsung (direct evidence) yang mendukung scenario kejadian pembuhunan tersebut. Oleh karenanya, jaksa hanya menyandarkan kasusnya pada bukti-bukti tidak langsung (circumstantial evidence). Secara sederhana, bukti langsung dapat diartikan sebagai bukti yang secara langsung dapat membuat terang suatu tindak pidana tanpa harus didukung oleh bukti lainnya. Sedangkan circumstantial evidence merupakan bukti tidak langsung ini hanya dapat dijadikan sebagai bukti petunjuk yang menggambarkan keadaan-keadaan sekeliling pada saat kejadian terjadi, sehingga diperlukan bukti lain yang bersesuaian untuk mendukung scenario sebuah tindak pidana.

Tapi yang menarik dari persidangan Lyoyd Rayney ini adalah, hakim tidak serta merta menerima begitu saja bukti tidak langsung jaksa atau hanyut pada opini yang beredar di masyarakat. Sebelum memutus pokok perkara, hakim mengabulkan permohonan Lyoyd Rayney untuk diadili tanpa juri. Hakim menilai publikasi kasus pembunuhan tersebut sudah sebegitu besarnya dan opini masyarakat sudah terbentuk, maka akan sangat merugikan bagi Lyoyd Rayney apabila harus diadili melalui juri yang merupakan representasi dari masyarakat.

Memasuki pokok perkara, hakim menekankan bahwa beban untuk membuktikan pembunuhan adalah tugas jaksa. Terdakwa, tidak memiliki kewajiban untuk membuktikan dia tidak bersalah. Jaksa harus merangkai kronologis kasus yang diyakininya benar Beyond Reasonable Doubt. Tidak cukup bagi jaksa hanya untuk menunjukan sangkaan bersalah atau kemungkinan terdakwa bersalah, karena apabila hanya sebatas itu, Terdakwa harus dibebaskan.

Terkait circumstantial evidence yang dihadirkan jaksa, hakim menyatakan bahwa dirinya harus menguji kebenaran bukti tersebut, sama seperti menguji bukti langsung. Berdasarkan circumstantial evidence tersebut, hakim akan menentukan fakta mana yang terbukti, dan kesimpulan apa yang didapat dari bukti tersebut secara Beyond Reasonable Doubt. Pengujian ini harus dilakukan untuk semua fakta yang dirangkai oleh jaksa. Hakim menegaskan menyimpulkan suatu fakta terbukti tidak bisa dilakukan dengan spekulasi “there is no room in the criminal court for speculation or speculative theories. Inferences can only be drawn if the facts proven by the evidence properly support the drawing of the inferences”.

Hal lain yang menjadi pembelajaran hukum dari hakim kepada masyarakat pada kasus Lyoyd Rayney adalah terkait mekanisme pembuktian dipersidangan. Jaksa harus merangkan fakta yang didukung oleh bukti sehingga dapat menyimpulkan terdakwa bersalah. Hal ini tidak boleh dibalik, dengan menyimpulkan terdakwa bersalah terlebih dahulu, kemudian mengumpulkan fakta dan bukti untuk mendukung kesimpulan tersebut. Meskipun konsep ini jamak dimasyarakat, namun hakim menegaskan hal tersebut tidak boleh terjadi dipersidangan karena setiap orang wajib dianggap tidak bersalah sampai dibuktikan sebaliknya Beyond Reasonable Doubt.

 Meskipun dakwaan jaksa kepada Lyoyd Rayney pada saat itu sangat runut dan presisi, namun akhirnya hakim memutus Terdakwa tidak bersalah. Putusan bebas ini didasarkan pada satu kejadian yang tidak bisa dibuktikan oleh jaksa, yakni tidak ada bukti yang mendukung fakta bahwa Terdakwa menyeret tubuh Korban dari rumah mereka ke dalam mobil, kemudian menurunkan kembali tubuh Korban untuk dikubur di Kings Park. Hakim menyatakan dakwaan dari jaksa hanya berdasarkan kemungkinan dan ketidakpastian tanpa ada bukti kuat. Oleh karenanya, Lyoyd Rayney harus diputus bebas.

Dari penggalan kasus tersebut dapat dilihat, kerja keras kepolisian dan kejaksaan negara bagian Australia Selatan dalam menginvestigasi kasus Lyoyd Rayney gagal karena mereka tidak bisa membuktikan Terdakawa bersalah Beyond Reasonable Doubt. Kepolisian dan kejaksaan meninggalkan lubang kecil keragu-raguan hakim yang tidak bisa dijawab oleh bukti-bukti yang diberikan. Terlepas dari besar atau kecilnya keraguan tersebut, hal ini cukup bagi hakim untuk menyatakan Lyoyd Rayney tidak bersalah.

Lantas bagaimana apabila ternyata Lyoyd Rayney memang pelakunya? Maka hal tersebut merupakan tugas jaksa sebagai representasi negara untuk membuktikannya kembali. Namun yang jelas, seseorang tidak bisa diputus bersalah hanya berdasarkan asumsi, prasangka, atau opini publik. Seseorang hanya dapat dihukum apabila seluruh dakwaan jaksa dapat terbukti Beyond Reasonable Doubt tanpa menyisakan keraguan hakim.

(Ringkasan putusan Lyoyd Rayney: http://www.supremecourt.wa.gov.au/_files/Judgment_Summary_Rayney.pdf. Putusan lengkap: http://decisions.justice.wa.gov.au/supreme/supdcsn.nsf/PDFJudgments-WebVw/2012WASC0404/%24FILE/2012WASC0404.pdf)

 

Follow and Like