truth

Hal itu terulang lagi. Kali ini I Wayan Sumardana atau biasa dipanggil Sutawan, pria asal Karangasem, Bali. Seminggu belakangan, Sutawan menjadi selebritis mendadak karena klaimnya telah menciptakan tangan robot yang dapat dikendalikan menggunakan otak. Kepada media, Sutawan bercerita kondisi tangan kirinya yang lumpuh membuat dia tidak punya pilihan lain selain harus berpikir untuk tetap dapat bekerja.

Tak butuh waktu lama bagi Sutawan untuk membuat tangan robot yang dia miliki sekarang, hanya sekitar empat bulan. Alhasil, tangan robotnya kini berfungsi dengan baik sehingga dapat membantu pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang las. “Karena dikendalikan otak, saya merasa sinyal otak saya terkuras” begitulah kira-kira Sutawan menceritakan tangan robotnya yang terbuat dari barang bekas seperti shock sepeda motor dan perangkat elektronik bekas.

Kita memang bangsa yang suka dengan hal-hal sentimental. Segala sesuatu yang menyentuh perasaan akan lebih cepat kita tangkap dan tanggapi. Tidak ada yang salah memang. Bahkan, pada tingkatan dan situasi tertentu hal ini perlu. Tapi patut diingat juga, tidak semua yang terjadi melulu harus dikaitkan dengan perasaan atau bahkan menolak logika. Karena pada akhirnya, masing-masing kita juga bertanggung jawab kepada akal sehat.

Hari-hari dimana Sutawan dipuja-puji sepertinya sudah lewat. Berganti hari-hari kritikan dan tudingan akan kebenaran dari temuan Sutawan. Saya bukan ahli di bidang apapun yang berkaitan dengan temuan Sutawan ini, namun beberapa ahli menyimpulkan tangan robot Sutawan yang diklaim dikendalikan oleh otak tidak lebih dari sekadar cerita bohong atau hoax. Bahkan, beberapa ahli menyebutkan, sampai saat ini belum ada temuan serupa yang sesempurna tangan robot Sutawan. Terhadap hal ini, saya kira harus dibuktikan terlebih dahulu dengan eksaminasi (atau apapun istilah lainnya) tangan robot milik Sutawan. Besar harapan saya pendapat ahli-ahli tersebut keliru.

Namun belum dimulai proses pembuktian ini, pengguna internet sudah ramai-ramai memberikan dukungan kepada Sutawan. Mereka menganggap, pihak-pihak yang mempertanyakan keaslian teknologi tangan robot Sutawan sebagai pembunuh kreativitas dan tidak menghargai kerja keras seorang tukang las yang hanya lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Bahkan, label “tukang kritik” disematkan bagi mereka yang ragu akan keaslian teknologi tangan robot Sutawan.

Bagi saya, kisah Sutawan ini harus dilihat secara proporsional. Penilaian terhadap kreativitas dan semangat kerja keras tidak dapat dibandingkan dengan urusan klaim teknologi. Mempertanyakan kesahihan teknologi tangan robot Sutawan tidak serta merta merendahkan kreatifitas dan semangatnya. Kreatifitas dan semangat bertahan hidup Sutawan itu satu hal. Tapi kritis terhadap sesuatu yang baru, seperti yang saya bilang di atas, itu tanggung jawab kita kepada akal sehat. Toh sekalipun teknologi tangan robot Sutawan itu ternyata hanya bohong belaka, apresiasi terhadap kreativitas dan semangat Sutawan tidak akan turun.

Kisah cerita Sutawan saat ini mengingatkan saya akan Eko Ramaditya Adikara, seorang bloger tuna netra yang sangat cakap di bidang teknologi. Pada saat itu saya bertemu langsung dengan Rama di acara Kick Andy di Kampus saya sekitar tahun 2008/2009. Kisah-kisahnya sangat menginspirasi meskipun dengan keterbatasan fisik yang dia miliki. Bagian yang paling fenomenal adalah pada saat dia mengklaim  bahwa dia salah satu komposer musik salah satu games terkenal di Jepang.

Suatu ketika, salah satu netizen di forum dunia maya terbesar di Indonesia melakukan investigasi dan menemukan bahwa Rama bukanlah komposer muski games asal Jepang yang diklaimnya selama ini. Perdebatan antara netizen pun bermunculan, persis seperti Sutarman saat ini. Pada akhirnya Rama mengakui bahwa klaim tersebut merupakan kebohongan yang dibuatnya sendiri. Alasannya berbohong pada saat itu karena dia ingin terlihat lebih hebat dengan memiliki sesuai yang berbeda. Namun Rama tidak kuat akan kebohongannya sendiri. Dia terbebani dengan pernyataanya sendiri. Saya cukup kecewa dengan pilihan Rama untuk berbohong tapi tidak mengurangi sedikitpun penghargaan saya terhadap semangatnya.

Bukan tidak mungkin kisah Rama terulang kembali kepada Sutawan. Namun kalapun itu terjadi, sudah sepatutnya kekurangan fisik, kemiskinan, pendidkan yang rendah dan hal sentimental lainnya, tidak dijadikan alasan untuk kita mentolerir kebohongan. Salah adalah salah, siapapun yang melakukannya, apapun alasannya. Tidak ada kebanggaan yang lahir dari kebohongan.

Follow and Like