hands

Bagi anda yang suka membuang barang mantan kekasih saat terjadi pertengkaran, barangkali kasus berikut bisa menjadi pelajaran untuk berpikir ulang dalam melakukan tindakan tersebut. Ihwal kasus ini bermula dari kota New South Wales, Australia, dimana Vicky Papathanasopoulos dengan Andrew Vacopoulos resmi bertunangan setelah sebelumnya berpacaran. Sang pria pun membelikan cincin pertunangan dengan harapan tak lama lagi mereka akan melangsungkan perkawian. Namun petaka terjadi, setelah resmi bertunangan, kedua mantan pasangan ini terlibat cekcok hebat sampai akhirnya, sang wanita memutuskan untuk mengakhir hubungannya sang pria.

Bukannya altar pelaminan, Vicky dipertemukan dengan Andrew diruang sidang Magistrate Court of New South Wales. Hal ini lantaran sang pria meminta kembali cincin pertunangan yang dibelinya, namun sang wanita tidak bisa memberikan cincin itu kembali karena sudah dibuang oleh bersama dengan kenangan-kenangan manis mereka. Mengejutkan, pengadilan mengabulkan gugatan sang pria dan meminta wanita untuk mengganti kerugian sang pria. Putusan ini bahkan diperkuat ditinggkat banding oleh New South Wales Supreme Court.

Kronologis

Kasus ini berawal pada tanggal 6 Agustus 2005 silam, pada saat Vicky dengan Andrew resmi bertunangan. Setelah sekian lama menyisihkan penghasilanya, Andrew akhirnya dapat membeli cincin seharga USD 15,250 (sekitar IDR 151 juta) sebagai tanda pertunangan mereka. Selayaknya pertunangan pada pasangan lain, Vicky dan Andrew berharap hubungan mereka akan berujung dipelaminan. Namun dalam hitungan hari setelah pertunangan, tepatnya 16 Agustus 2005, sang wanita menarik kembali keputusannya untuk menerima pinangan sang pria, dan memutuskan hubungan dengan sang pria.

Bertempat di kediaman sang wanita dan disaksikan oleh keluarganya, sang wanita mengembalikan cincin tunangannya dan meletakannya di meja tepat dihadapan sang pria duduk, sembari berkata “the wedding is off, here take the ring, I don’t want it.” Masih tak percaya dengan apa yang terjadi, sang pria menolak cincin tersebut dan berkata “I do not want the ring it is a gift for you, you can keep it.” Sang pria pun pulang tanpa membawa cincin tersebut.

Pada tanggal 24 Agustus 2005, sang wanita kembali mengingatkan sang pria untuk mengambil cincin pemberiannya. Sang wanita berkata bahwa cincin tersebut ada sebuah kotak di kamarnya bersama dengan foto-foto dan pemberian sang pria lainnya. Sang wanita juga mengingatkan sang pria untuk menelepon ayahnya terlebih dahulu apabila dia ingin mengambil kotak tersebut.

Bukannya menjemput kotak yang dimaksud, pada tanggal 29 September 2005 sang pria menelepon sang wanita dan meminta agar mereka masih bisa bersama. Malang, sang pria malah dimarahi oleh sang wanita. Tidak cukup sampai disitu, sang wanita meminta orang tuanya untuk membuang kotak berisi pemberian sang pria tersebut. Beberapa hari kemudian, bapak sang wanita memberitau sang pria lewat email bahwa barang-barangnya telah dibuang. Tak terima dengan perlakuan sang wanita, sang pria pun menggugat ganti rugi kepada Magistrate Court of New South Wales.

Pertimbangan Hakim

Terhadap gugatan sang pria, sang wanita mengatakan bahwa cicin tersebut merupakan hadiah dari sang pria. Oleh karenya, dia bersikukuh bahwa dia berhak melakukan apa saja terhadap barang tersebut, termasuk membuangnya. Namun hakim memiliki pendapat yang berbeda. Hakim menilai pemberian cincin pada tanggal 6 Agustus 2016 merupakan pemberian bersyarat (conditional gift), yakni harus diikuti dengan pernikahan. Mengutip kasus Cohen v Sellar, hakim menilai apabila seorang wanita menerima cincin pertunangan yang ditujukan sebagai awal menuju perkawinan, maka wanita tersebut harus mengembalikan cincin tersebut apabila dia tidak menolak untuk melangsungkan perkawinan tersebut.

Lantas bagaimana dengan fakta bahwa sang wanita telah dua kali mengembalikan cincin tersebut serta meminta sang pria untuk mengambilnya sendiri? Terhadap hal ini, hakim memutus bahwa pernyataan sang pria yang mengatakan “I do not want the ring it is a gift for you, you can keep it” harus dilihat secara kontekstual. Dilihat dari situasinya, kata-kata tersebut hanya merupakan upaya dari sang pria untuk tetap mempertahankan hubungannya dengan sang wanita, bukan sebagai bentuk penolakan. Terlebih kata-kata tersebut diucapkan di depan keluarga sang wanita, sehingga dianggap sebagai cara yang cukup persuasif. Oleh karenanya, kata-kata tersebut tidak mengubah status cincin tersebut sebagai conditional gift menjadi absolute gift.

Karena hakim menilai sang wanita tidak memenuhi persyaratan untuk mendapatkan cincin tersebut sebagai hadiah, maka dia memiliki kewajiban untuk mengembalikan cincin tersebu. Sehingga sebelum cincin tersebut kembali ke tangan si pria, sang wanita secara otomatis bertindak sebagai orang yang dititipi. Sebagai orang yang dititipi, sang wanita memiliki kewajiban untuk menjaga cincin tersebut. Dengan membuang cincin tersebut, sang wanita telah gagal untuk menjaga barang milik orang lain, sehingga bertanggung jawab untuk mengganti kerugian.

Pengecualian

Meskipun memutus sang wanita bertanggung jawab untuk mengganti kerugian sang pria, hakim membuka beberapa contoh situasi dimana sang wanita dapat dikecualikan dari tanggung jawab. Antara lain, sang wanita dapat menolak untuk mengembalikan cincin tersebut apabila yang mengurungkan niat untuk melangsungkan perkawinan adalah sang pria itu sendiri. Atau, terdapat alasan lain yang membuat sang wanita dirugikan oleh sang pria, seperti sang pria selingkuh, melakukan tindak kekerasan kepada sang wanita, dan sebagainya. Namun tanpa adanya faktor ini, cincin tersebut haruslah dikembalikan kepada sang pria.

Unduh putusan: Papathanasopoulos v Vacapoulos [2007] NSWSC 502

 

Follow and Like