“But at the end of the day, what do you want to learn about in school as part of history? Myth or fact?”

Itulah sepenggal kalimat yang dilontarkan oleh Professor Emeritus Tan Khoo Kay Kim, seorang sejarahwan Malaysia dari University Malaya mengenai pendapatnya yang kontroversional akan eksistensi figur sejarah Hang Tuah. Sebelumnnya Professor ini mengemukakan pendapat berdasarkan riset yang telah dia lakukan bahwa tokoh sejarah Hang Tuah tidak pernah ada dalam kehadiranya hanya sebatas tokoh dongeng. Pendapat ini tak pelak mendatangkan protes keras dari tokoh-tokoh masyarakat melayu dan bahkan professor Tan Khoo Kay Kim sampai dilaporan ke polisi dengan tuduhan Insulted Royalti karena dikatogerikan sebagai penghinaan terhadap kerajaan.
Mungkin bagi sebagian orang yang sedang berstatus liburan ke negara lain menulis bukan hal yang menarik untuk dilakukan atau kalaupun menulis, hal-hal seputar liburan atau suasana negara tersebut menjadi objek tulisan. Begitupun dengan saya, sampai akhirnya saya membaca koran hari ini yang diberikan oleh petugas kamar hotel. Kutipan diawal tulisan ini merupakan salah satu tulisan di halaman muka koran New Sunday Times terbitan tanggal 29 Januari 2012 di Malaysia. Berita mengenai Hang Tuah di koran tersebut merupakan kutipan langsung tanya-jawab antara wartawan dan Professor Tan Khoo Kay Kim.
Sangat menarik perhatian saya saat itu karena Hang Tuah merupakan tokoh melayu yang cukup terkenal. Bagi orang-orang yang besar di daerah melayu seperti Malaysia dan Sebagian Sumatera, tokoh Hang Tuah bukanlah sesuatu yang asing. Tokoh ini sudah mendapatkan tempat yang tinggi dalam sejarah rakyat melayu. Semasa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama saya dulu, pada mata pelajaran Arab Melayu yang pada saat itu merupakan bagian dari pelajaran muatan lokal bagi sekolah-sekolah di Riau, tokoh Hang Tuah dan kisah – kisah perjuangannya menghiasi buku pelajaran pada saat itu. Di Duri, Pekanbaru dan kota-kota lain di Riau lainnya, Nama Hang Tuah sudah diabadikan sebagai nama jalan – jalan besar. Nama besar Hang Tuah pun tidak sebatas di wilayah melayu di Indonesia. Tercatat dua institusi pendidikan di jawa timur menggunakan nama Hang Tuah; Universitas Hang Tuah di Surabaya dan Sekolah Menengah Kejuruan Pelayaran Hang Tuah di Kediri. Di Malaysia sendiri, tepatnya di kota Malaca, kota berjarak 2 jam perjalanan darat dari Kuala Lumpur, Tokoh Hang Tuah dibuatkan museumnya tersendiri yang memuat peninggalan-peninggalan raja laut ini, berikut sebuah kapal yang diyakini sebagai kapalnya. Besarnya eksposur – eksposure terhadap tokoh Hang Tuah yang saya ketahui inilah yang melatarbelakangi saya tertarik untuk menulis opini-opini Professor Tan Sri Khoo Kay yang tertuang dalam wawancaranya dengan harian New Sunday Times Malaysia.

Hang Tuah
Hang Tuah merupakan tokoh melayu berpangkat laksamana pada era kesultanan Malaka. Secara singkat, dia dikenal sebagai seorang pemberani bersama teman-teman seperjuanganya diantaranya Hang Jebat dan Hang Lekir walaupun pada akhirnya antara Hang Tuah dan Hang Jebat terlibat dalam pertarungan yang sengit. Bagian paling heroik dari kisah Hang Tuah adalah pada saat dia berhasil menumpas penjahat-penjahat yang merusak desanya dan saat dimana dia dapat membunuh Taming Sari, seorang pejuang Jawa dari kerajaan Majapahit dan mengambil kerisnya. Diakhir cerita Hang Tuah dituduh berzinah dan hampir di hukum mati walaupun kemudian Hang Tuah disembunyikan itempat yang jauh oleh bendahara. Sampai sekarang, tokoh Hang Tuah ini masih dianggap sebagai tokoh kebangaan masyarakat melayu karena berhasil mengangkat level masyarakat melayu melalui ceritanya.

Wawancara
Sebagai seorang sejarahwan, professor Tan Sri Khoo Kay mengemukakan bahwa Malaysia pada saat ini lebih menghargai figur mitos daripada orang-orang yang benar telah memberikan kontribusi ke negara. Inilah yang membedakan masyarakat Malaysia berbeda dengan bangsa – bangsa barat, katanya “western society remember its historical figures and separates legend and history. Unfortunately, the same can’t be said here”. Dalam pelajaran di sekolah-sekolah, cerita mengenai Hang Tuah tidak diketahui apakah harus diterima sebagai mitos atau fakta. Professor Tan Sri Khoo Kay juga mengomentari Sejarah Melayu yang dicatat dalam bagian sejarah kesultanan Malaka yang didalamnya menyebutkan kisah mengenai Hang Tuah. Namun menurutnya, sejarah melayu tidak dapat dikatakan sebagai sejarah sepenuhnya. Hal ini disebabkan karena dalam sejarah Melayu tidak mencatat mengenai penaggalan dan waktu, bahkan sampai sekarang beberapa tokoh didalamnya tidak dapat dipastikan kebenaran eksistensinya.
Lebih jauh, sejarah Melayu tersebut tidak mencantumkan kapan malaka ditemukan, kapan meninggalnya Hang Jebat dan hal-hal fundamental lain, sebagai sejarahwan, menurutnya sejarah Malaysia tersebut tidak dapat dijadikan acuan sejarah. Sebagai pembandingnya, Catatan Ming dari Cina secara jelas mencamtumkan penguasa-penguasa Malaka lengkap dengan durasi lamanya mereka berkuasa. Kesemuanya tertulis secara jelas karena dicatatkan periodikal. Berdasarkan catatan Ming ini jugalah Malaka sebagai bagian dari Malaysia mendapatkan kembali penggalan-penggalan sejarahnya, tak heran catatan pada dinasti Ming menjadi salah satu dokumentasi sejarah terbaik dalam sejarah. Dibandingkan dengan catatan Ming sebagai catatan sejarah yang seharusnya, catatan Melayu hanya dapat dianggap sebagai teks, tidak lebih. Mengenai makam Hang Tuah yang terletak di Malaka pun tidak sepenuhnya dapat di terima sebagai sejarah karena Hang Tuah dikatakan tidak kembali dari gunung Ledang.
Professor Tan Sri Khoo Kay pun memberi catatan mengenai nilai murni (good values) dari cerita Hang Tuah sehubungan dengan pendapat beberapa kalangan yang mengatakan bahwa pembahasan mengenai Hang Tuah ini seharusnya tidak hanya sebatas kebenaran eksistensi tapi lebih menitiberatkan kepada nilai – nilai yang dapat diambil dari sosok Hang Tuah. Namun sanggahnya, pada saat Hang Tuah kehilangan senjatanya, Hang Jebat memberi kesempatan kepadanya untuk mengambil kembali senjatanya, namun pada saat Hang Jebat kehilangan senjatanya, Hang Tuah menggunakannya sebagai kesempatan untuk menyerang. Walaupun mengaku bukan dia yang menentukan sebuah nilai murni, namun dari penggalan cerita tersebut dapat dikatakan siapa yang seharunya menjadi panutan. Namum dia menegaskan, ilmu yang mempeljari nilai murn atau moral adalah disiplin ilmu yang harus dipisahkan dari ilmu sejarah. Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah dapat dikategorikan sebgai literatur klasik yang mengajarkan nilai-nilai moral namun jangan sampai di gabungkan dengan sejarah.
Mengenai keadaan sejarah Malaysia secarah keselurahan, dia mengutarakan bahwa terdapat banyak suatu cerita yang diterima sebagai sejarah namun tidak melalui verifikasi dari sejarawan profesional dan terlatih. Dalam dunia akademik di bangku sekolahaan, sains dan teknologi harus digunakan untuk menjawab segala pertanyaan yang timbul pada sejarah, bukan dijawab dengan mitos atau dongeng. Sejarah malaysia pun dikatannya mulai tercatat dengan baik mulai dari tahun 1949, pada saat berdirinya University Malaya, sebelumnya sejarah Malaysia hanya berdasarkan catatan resmi British dan menghiraukan sejarah lokal.

Tanggapan Keturunan Hang Tuah
Pendapat dari professor Tan Sri Khoo Kay Kim inipun kemudian menimbulkan reaksi dari sekelompok orang yang mengaku sebagai keturunan langsung dari Hang Tuah. Mereka mengklaim memiliki versi sendiri Hikayat Hang Tuah yang ditulis dalam bahasa Jawi kuno dan selama ini belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Malaysia atau dipublikasikan. Menurut Khalid Hussin, orang yang mengklaim dirinya sebagai keturunan Hang Tuah dan Tun Perak (mertua Hang Tuah), keberadaan buku tersebut hanya terbatas pada lingkungan keluarga saja. Tambahnya lagi, alasan Professor Tan Sri Khoo Kay Kim yang mengatakan tidak ada catatan sejarah yang valid mengenai eksistensi Hang Tuah tersebut dikarenakan pada saat itu Hang Tuah dan Tun Perak menjadi sasaran utama bangsa portugis, sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan Hang Tuah disita, beberapa rusak padaa saat di kapalakan ke portugis dan beberapa musnah pada saat kapal portugis kandas di selat Malaka, hal ini jelas tertulis di sejarah. Khalid bahkan mengklaim, pada tahun 2011 asosiasi yang dipiminnya telah berhasil mendata 1.000 orang keturunan Hang Tuah. Menariknya Khalid mengaggap statement dari professor Tan Sri Khoo Kay Kim disampaikan dengan itikad yang baik, sehingga dia mengatakan membuka pintu diskusi akan perdebatan ini.
Perebatan akan kebnaran eksistensi tokoh melayu Hang Tuah ini bagi saya benar-benar menarik.Selain karena Laksamana Hang Tuah ini sudah dianggap tokoh besar, mempertanyakan kebenaran akan suatu versi sejarah merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap sejarah tersebut. Sama seperti ilmu pengetahuan lainya, sejarah juga harus senantiasa dipertanyakan kebenarannya agar dapat diterima sebagai kebenran yang hidup, bukan dicari pembenaranya berdasarkan mitos ataupun dogma yang dibuat tabu untuk di pertanyakan. Terlepas dari hasil akhir dari perdebatan ini, tindakan dari Professor Tan Sri Khoo Kay ini patut diapresiasi. Hal senada diharapkan dapat juga terjadi di Indonesia. Hadirnya berbagai macam versi sejarah jangan dianggap sebagai pelecehan terhadap sejarah, versi mana yang benar dan dapat dipercaya, itulah yang diserahkan kembali ke masyarakat untuk memilih.

*Wawanara diambil dan diterjemahkan dari koran New Sunday Times terbitan tanggal 29 Januari 2012, Malaysia.

Kuala Lumpur, 29 Januari 2012

Follow and Like