Jakarta, kota dengan jumlah penduduk sekitar 9.588.198 jiwa, sekaligus menyandang gelar kehormatan sebagai ibu kota negara Indonesia menjadikan tempat ini bukan sesuatu yang asing lagi. Terletak di pulau jawa, salah satu pulau terpadat yang ada di Indonesia bahkan di dunia tidak menyurutkan eksotisnya kota ini. Yah, eksotis. Bukan tanpa alasan dibalik segala image miring kota berumur 484 tahun ini. Saya tidak tau apakah penggunaan kata “eksotis” ini sesuai dengan tempatnya namaun sampai sekarang saya belum menemukan padanan kata yang pas untuk kota ini.

Dalam melihat kota jakarta ini mari memasuki area yang lebih jauh daripada sekadar menjamah kesan kacau balau jalan rayanya atau egoisnya gedung pencakar langit. Entah kenapa saya merasa saya baru menemukan “jakarta” di jalan raya. Menyebalkan memang, tapi pernahkah anda dikala menghabiskan waktu padatnya kota jakarta lantas memperhatikan interaksi sosial jalanan yang terjadi? Mungkin karena saya belum pernah tinggal di Jakarta dalam waktu yang cukup lama sehingga dalam melihat interaksi ini merupakan suatu pengalaman yang luar biasa. Di jalan Jakartalah saya menemukan karakter jamak Indonesia, jalanan kota Jakarta bagi saya merupakan miniatur negara Indonesia. Bukan sebagai ungkapan pesimistis terhadap orang Indonesia namun majemuknya kota ini benar – benar memberi kesan Indonesia yang beragam.

Menikmati “Indonesia” di jalanan Ibu Kota

Saya kuliah di Bali sekitar empat tahun, hal ini membuat jakarta bukan tempat yang asing bagi saya untuk sekadar singgah sehari atau dua sebelum melanjutkan perjalananan pulang ke Pekanbaru. Disetiap kesempatan ke Jakarta saya hampir selalu memilih menggunakan bus umum bandara untuk ketempat tujuan saya, bus yang lumayan nyaman berlabelkan tulisan “damri” dibadanya. Dengan membayar Rp.30.000 untuk tujuan Bekasi, Perjalanan kurang lebih 1 jam dengan bus inipun dimulai setelah setengah jam memutari area bandara Soekarno-Hatta.  Membuat saya terkesima menyaksikan hal – hal unik, diantaranya bagaimana beberapa orang berbicara menggunakan bahasa daerahnya masing – masing, bagaimana orang – orang diluar bus dengan kendaraan pribadinya mengisi waktu selagi macet atau rautan ekspresi yang muncul pada saat mengetahui antrian panjang mobil didepannya.

Menjadi bagian dari kemacetan Jakarta kala itu membuat saya teringat kata-kata yang mungkin familiar bagi anda yang tinggal di kota ini yaitu ungkapan “penduduk Jakarta tua dijalan”. Tanpa macetpun, Jarak dari ujung ke ujung kota ini pun sudah jauh dan memakan waktu lumayan lama menempuhnya. Jakarta itu kota dengan luas 661,52 km², kalau harus dibuat berbandingan dengan kota lain, luas kota Jakarta itu hampir 6 kali lipat luas kota Bandung. Luas yang begitu besar, kemajemukan, kelas sosial yang beragam semakin memantapkan imajinasi saya bahwa Jakarta memang Indonesia dalam sekala kecil.

Pagi kota Jakarta

Jakarta

Hari ini saya ada jadwal untuk menjalani pemeriksaan kesehatan pada salah satu rumah sakit di daerah kuningan. Janji jam 8, saya berangkat dari rumah sekitar Pukul 06:00 WIB. Setengah jam diperjalanan saya disambut macet yang disesaki oleh pengendara motor yang kebanyakan membawa anak sekolah. Mungkin tidak gampang menjadi pelajar di Jakarta ini, mereka harus mengawali hari mereka lebih awal daripada pelajar lain di daerah. Belum tuntas berjibaku didaerah macet, sesekali saya melihat tipikal pengendara motor Jakarta, bukan generalisasi namun mayoritas, yang bertindak membahayakan pengendara lain, ya mungkin alsananya karena terburu – buru tapi bukan jakarta tanpa terburu – buru.

Pemandangan saya teralihkan lagi pada sebuah truk besar yang didalamnya mengangkut kios – kios pedagang kaki lima, seketika saya membaca tulisan di sisi samping truk tersebut yang bertuliskan “Satpol PP”, terbayang langsung adegan – adegan kekerasan petugas ini seperti di televisi. Tapi ah sudahlah, itu hanya asumsi, saya tidak tau pasti, yang pasti adalah memang itu tugas satuan itu. Setelah sampai di rumah sakit, saya kembali mengingat segala hal yang terjadi dijalan dan dalam hati saya bertanya “Bukankah masih cukup pagi untuk semua kejadian tersebut terjadi?” tapi inilah pagi jakarta.

Rasa ingin tau saya terhadap Jakarta kemudian lebih tertantang pada saat saya, karena kondisi tertentu harus pulang sendiri. Saya tak sabar untuk segera menggunakan transportasi umum yang ada dan dalam diri saya, taxi bukanlah pilihan. Tepat pukul 09.00 WIB setelah selesai check up, dimulai dengan patas P-6, saya lupa jurusan bus ini namun itu bukan hal penting dibanding apa yang saya alami di atas bus tersebut. Suasana penuh sesak, saya duduk dibangku paling belakang disebeleh pria paruh baya yang tertidur membawa cangkul dan pria sebelah saya satu lagi sepertinya pekerja lepas dengan tas punggung berumur kira – kira 40 tahun yang sedikit memaharahi kernet bus pada saat diminta untuk bergeser sedikit agar saya dapat duduk. Alih – alih dapat duduk tenang, posisi saya tidak cukup nyaman, terlalu sempit untuk dapat bersandar. Tiba giliran sang kernet menumpulkan bayaran, ada kejadian menarik, dimana saya melihat penumpang lain memberikan Rp. 2000 namun saya sengaja memberi Rp.10.000, bukan sesuatu yang mengejutkan mungkin tapi saya mendapat kembalian Rp.7.500 yang artinya sang kernet mengambil Rp.500 lebih mahal daripada seharusnya, yah itulah pemandangan pertama.

Dari kursi belakang saya melihat ke kaca depan, persimpangan tujuan saya sudah dekat, saya hampiri pintu keluar, tak lama setelah itu, mikrolet kendaraan saya selanjutnya sudah menanti. Berjarak tak lebih dari 10 meter namun berada disebrang jalan, seharusnya bukan hal yang sulit untuk menyebrang jalan tersebut apalagi diatas marka zebra cross sampai saya sadari hak sebagai pejalan kaki bukan hal yang mendapat perhatian disini. Beruntung, sang supir mikrolet yang melihat saya merupakan calon konsumen dengan enteng masih berhenti di tengah jalan menunggu saya menyebrang tanpa memperdulikan tindakannya mengakibatkan macet dibelakang. (Tanpa sadar, saya menggunakan kata “beruntung” diawal tadi, belum lama di sini, saya sudah terjangkit egoisme penduduk Jakarta.)

Jakarta selalu mendapat kesan berbeda bagi saya pribadi. Sebuah kesan yang membuat saya seperti mendapatkan sesuatu yang lebih dari pengalaman tapi juga pelajaran. Kota multikultur dimana pribadi – pribadi individunya terbentuk dari suatu tujuan hidup yang harus bekerja sama dengan pilihan – pilihan yang tidak terlalu banyak. Saya teringat beberapa bulan lau saya di Jakarta, masih pukul 04:00 WIB saat itu, kaum pekerja sudah mulai meramaikan jalanan, kaum yang menjadi denyut nadi Jakarta. Tak heran, pintu kedatangan kota ini ibarat pintu impian bagi pendatang yang merasa yakin akan bujuk rayu ibu kota menawarkan rupiah. Beberapa dari mereka mendapatkannya sedangkan sisanya mungkin masih menganggap dirinya hanya belum beruntung. Tapi tidak setiap jengkal tempat di Jakarta menjadikan uang sebagai indikator kebahagiaan, bagi orang yang mendapat predikat belum beruntung bukan berarti mereka tidak ber hak atas kebahagian yang ditawarkan ibu kota. Rumah kayu, taman kecil dan lapangan sepakbola berumputkan tanah dibalik megahnya tembok bangunan tinggi sudah cukup memberikan senyum tawa, senyum tawa yang menegaskan bahwa uang memang buka segalanya tapi dengan uang jelas dapat memberi lebih banyak pilihan, termasuk pilihan untuk bahagia.

Inilah perspektif jakarta di mata saya, lebih dari sekadar apartemen mewah, tingginya tower atau kerasnya beton fly over. Kota dengan lampu lalu lintas dan papan besar reklame yang menjadi pohon di jalanan Ibu kota, trotoar sempit disulap bagi mereka yang punya naluri bisnis menjadi “supermarket” dadakan. Kota besar yang mulai kewalahan menampung penduduknya namun disisi lain masih dapat bertahan hidup karena penduduknya juga, kenyataan ini pantas untuk menggambarkan Indonesia.

Jakarta, 02/02/2011

Follow and Like