Event lari Samosir Lake Toba Ultra 2015 (SALUT) diselenggarakan pada tanggal 20 September 2015, di dearah Pulau Samosir, tepatnya di kota Pangururan. SALUT 2015 merupakan event lari pertama yang diselenggarakan oleh Running Explorer bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat sebagai salah satu rangkaian acara Horas Samosir Fiesta 2015 yang dimulai sejak 4 April 2015 sampai dengan 31 Desember 2015.

Secara keseluruhan, sebagai event lari pertama terbesar yang diadakan di Danau Toba, SALUT 2015 telah diselenggarakan sangat baik, terlepas dari keterbatasan yang ada. Bahkan, beberapa teman saya dengan sangat yakin akan mengikuti event serupa di tahun depan apabila dijadikan agenda tahunan.

Detail Perlombaan

Terdapat empat kategori perlombaan pada SALUT 2015, yakni 5k, 10k, 25k, dan 47k. Pada kesempatan ini saya mengikuti race dengan kategori 25k.

Mengambil titik start di Open Stage Pangururan, pelari diajak melintasi daerah Pusuk Buhit yang diyakini asal muasal orang batak, menuju ke Jalan Tele-Pangururan. Khusus untuk pelari kategori 47k, mereka berlari 20 km lebih jauh ke arah Menara Tele di ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut.

Cut-off-Time untuk masing-masing kategori adalah 9 Jam untuk 47k, 5 jam untuk 25k, 2.5jam untuk 10k, dan 1.5jam untuk 5k.

25 K Race Course 47K Race Course

Promosi Wisata Danau Toba dan Budaya Batak

Seperti disinggung di atas, SALUT 2015 merupakan salah satu bagian dari rangkaian acara Horas Samosir Fiesta 2015. Sehingga, selain merupakan acara lari, SALUT 2015 juga merupakan media promosi wisata danau toba dan budaya batak.

Promosi budaya batak ini telah terasa sejak pembagian racepack. Motif kain ulos digunakan pada bagian depan Running tee yang dibagikan kepada peserta. Sebelum flag off dilakukan, peserta diajak untuk melakukan senam pemanasan. Yang berbeda dengan acara lari lainnya, senam pemanasan SALUT 2015 diirining musi-musik batak yang up-beat. Tak hanya sampai disitu, dibeberapa kilometer sepanjang race course para peserta disuguhi penampilan pelajar Sekolah Dasar setempat berpakaian adat menari tarian tor-tor, lengkap dengan alat musik gondang.

Namun rasanya upaya promosi, baik promosi wisata maupun promosi acara SALUT 2015 yang dilakukan masih jauh dari maksimal. Baru sampai kota Pangururan saya melihat media promosi SALUT 2015. Beberapa informasi mengatakan terdapat spanduk SALUT 2015 di kota Medan, namun sayangnya saya tidak menemukan hal serupa sesampainya di Bandara Kualanamu. Para peserta pun tidak diberikan informasi mengenai pariwisata Danau Toba yang cukup pada saat mendaftar ataupun pengambilan racepack. Padahal, potensi untuk meningkatkan jumlah wisatawan atau setidaknya disemenasi informasi wisata Danau Toba melalui SALUT 2015 sangat besar dan efektif.

Flag Off

Sekitar jam 5 pagi setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, flag off untuk kategori 47k dan 25k dilakukan. Suasana gelap pada 15 sampai 20 menit pertama membuat tidak ada yang spesial dari event lari ini. Terlebih, selama 5 km pertama dari race course merupakan jalur sehari-hari yang saya lintasi selama 2 hari sebelumnya.

Memasuki km ke-7, saat keadaan perlahan terang, suasana lari baru mulai terasa menyenangkan. Tepat di depan pemandian air panas Pusuk Buhit, para perlari harus melintasi jalur pendakian kurang lebih sepanjang 500 meter sampai dengan 800 meter. Selang beberapa kilometer, track aspalpun berubah menjadi tanah. Track model inipun harus dilalui pelari sejauh kurang lebih 4 km sampai dengan 5 km kedepan. Namun, disinilah keseruan SALUT 2015 dimulai.

Selama menapaki jalur tanah, pelari disuguhi pemandangan gunung, Danau Toba dan sawah yang sangat indah. Udara yang segar pada ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut membuat lari mendaki menjadi sedikit kurang melelahkan. Selama berlari saya tak habis-habisnya menikmati pemandangan yang sangat indah ini. Tak berlebihan rasanya slogan Pulau Samosir “Negeri Indah Kepingan Surga”.

Bagi saya, ini merupakan acara lari dengan pemandangan paling indah disepanjang race course. Bahkan seringkali saya dan teman-teman berhenti dan lari mundur kebelakang hanya untuk berfoto dengan latar pemandangan ini. Bagi pelari dari kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang sudah bosan dengan suasana city run, berlari dengan udara segar dan pemandangan indah pada SALUT 2015 merupakan suatu kemewahan.

Selepas berlari “off road” aspalpun kembali dijumpai. Pemandangan gunung, sawah dan danau pun berganti menjadi suasana perkampungan asli batak. Saya melintasi kawasan perkampungan dengan model rumah panggung yang merupakan rumah khas batak. Tak jarang, para perlari bertegur sapa dengan para penduduk sekitar yang juga antusias menyaksikan rombongan pelari melintas.

Water Station dan Nanas

Salah satu kriteria utama dalam menilai apakah acara lari berlangsung dengan baik adalah kondisi water station yang disediakan. Pada acara SALUT 2015, water station yang disedikan dapat dikatakan sangat baik, tanpa ada berkekurangan air mineral, air isotonic, ataupun buah-buahan. Bahkan seorang pelari yang membawa tas hydration bag mengatakan tidak sekalipun selama 25k meminum air pada hydration bag yang dibawanya, hanya bermodalkan botol handheld, dia dapat mengisi botol tersebut disetiap water station.

Ada hal mengejutkan yang terjadi pada water station pada km-17, dan selama saya mengikuti berbagai acara lari, hal ini hanya terjadi di SALUT 2015. Di water station km-17, panitia menyediakan buah nanas kepada peserta. Saya salut dengan pihak yang menyediakan buah nanas kepada peserta. Saya mengerti betul mempersiapkan buah nanas bagi ratusan orang bukan hal mudah. Itu alasan kenapa buah-buah yang diberikan kepada pelari biasanya berupa pisang dan jeruk, karena proses mempersiapkanya jauh sangat mudah.

Sayang, saya tidak sempat mengabadikan water station km-17 ini.

Catatan Waktu

Saya finish dengan catatan waktu 4 jam 15 menit. Bukan merupakan catatan waktu terbaik saya, namun mengingat banyak waktu yang saya habiskan untuk berfoto-foto sepanjang race course, saya merasa catatan waktu ini tidak terlalu buruk. (baca: excuse).

Screen Shot 2015-11-06 at 6.06.11 PM

Berikut video yang saya buat dan unggah menggambarkan perjalanan ke Pulau Samosir, objek wisata di sekitar kota Pangururan, serta suasana acara SALUT 2015.

 

Follow and Like