“Like every med student in the country, she had begun her studies vowing that money was not the attraction. She wanted to help humanity. Same for law students. We all lied.”

81VSQfL20ZL

Itu lah sepenggal kalimat dari novel The Street Lawyer karya John Grisham. Mungkin membuat sebuah review untuk suatu novel yang di terbitkan pada tahun 1998 silam bisa tergolong terlambat. Jujur saja, novel ini saya baca tiga atau empat tahun yang lalu, sehingga untuk menceritakannya ulang saya perlu membaca beberapa bagian kembali untuk menyegarkan ingatan. Namun entah mengapa, setelah saya membuat review untuk karya John Grisham yang berjudul The Litigators, saya merasa ingin membuat review untuk novel The Street Lawyer juga. Seperti ada bagian yang kurang apabila membuat review karya John Grisham tetapi tidak menyebutkan novel fiksi legal thriller The Street Lawyer yang merupakan salah satu karya terbaik dari mantan pengacara sekaligus politikus di Amerika Serikat ini. Alasan lain, novel ini sangat menginspirasi, khususnya di dunia praktisi hukum. Beberapa kalangan profesional hukum khususnya seorang lawyer baik dalam maupun luar negeri, menjadikan kisah di novel ini sebagai refleksi sebuah profesi. Bahkan di Indonesia, ada Lembaga Bantuan Hukum The Street Lawyer yang namanya memang sengaja diambil dari kisah novel ini. Singkatnya, novel ini dapat dikatakan bacaan wajib diluar buku akademis bagi mereka yang menggeluti atau tertarik dengan perspektif hukum di tatanan masyarakat.

Kalimat pendahuluan diatas mungkin cukup menohok atau bahkan menelanjangi artian dari sebuah profesi khususnya seorang lawyer. Tapi itu lah inti dari novel The Street Lawyer ini. Kisah yang coba diangkat adalah tentang  seorang lawyer, dikarirnya yang tengah bersinar, tak lebih dari tiga tahun akan menjadi seorang partner di sebuah law firm terbesar ke tiga di Amerika Serikat. Bagi anda yang belum tau, jabatan partner adalah jabatan karir tertinggi di sebuah kantor hukum, jabatan dengan bayaran minimal USD 500/hour, di umur 50 anda tak perlu lagi pusing memikirkan uang.  Jelas sebuah prestise bagi seorang lawyer. Namun, lawyer tersebut memilih jalan yang sangat mengejutkan dengan keluar dari kantornya dan beralih menangani kasus-kasus jalanan dengan tunawisma-tunawisma sebagai klien. Seseorang yang lari dari imipian hampir semua orang di dunia advokat.

Plot

Seseorang datang ke kantor hukum Drake & Sweeney, tanpa banyak bicara dengan sebuah pistol ditangan dan bom di dadanya. Dia menjadikan beberapa orang lawyer sebagai tahanan dan salah satu dari lawyer tersebut adalah Michael Brock. Namun ada yang aneh dari penyanderaan ini, penyandera yang ingin dirinya dipanggil sebagai “Mister” tak meminta tebusan atau keinginan apapun. Yang terjadi sepanjang penyenderaan hanya tanya jawab seputar berapa penghasilan yang didapat oleh lawyer-lawyer tersebut dan berapa yang mereka bagikan terhadap kaum miskin. Ironisnya, dari jutaan dollar yang para lawyer itu hasilkan setiap tahunnya, nyaris tak ada yang berakhir bagi orang miskin jalanan. Kisah penyanderaan pun diakhiri dengan tembakan oleh polisi dari gedung sebelah di kepala Mister. Semua lawyer selamat, tak ada luka sedikitpun namun peristiwa tersebut mengubah pandangan Michael Brock sebagai seorang lawyer.

Belakangan diketahui Mister merupakan seorang tunawisma dengan pistol curian dan bom palsu. Namun, percakapan dengan Mister membuat Michael Brock tak hentinya mempertanayakan bagaimana dia sebagai seorang lawyer yang mapan secara finansial, bisa tidur nyenyak tiap malam pada saat di waktu yang sama orang – orang seperti Mister harus bertarung melawan dinginnya malam kota New York saat itu. Bayang-bayang Mister membuat Michael Brock merasa bersalah dengan angkuhnya profesi seorang lawyer dia pun kemudian bertemu dengan Mordecai Green, seorang lawyer bagi kaum miskin yang memberikan jasa nya secara cuma-cuma bagi kaum miskin kota New York selama 30 tahunan.

Sosok Mordecai Green kemudian menginspirasi Michael Brock, sekaligus memantapkan pilihannya sebagai pengacara jalanan. Permasalahan dimulai pada saat Michael Brock mengambil file rahasia di kantornya yang lama, Drake & Sweeney, mengenai penggusuran ilegal yang dilakukan kantor tersebut. Niat Michael Brock sebelumnya ingin mengkopi file tersebut, namun dia mengalami kecelakaan lalu lintas dan file tersebut tak pernah kembali ke Drake & Sweeney. Michael Brock pun dituduh sebagai pencuri. Salah satu dari korban penggusuran illegal yang dilakukan Drake & Sweeney ternyata Mister dan terdapat juga Lontae Burton, seorang ibu dengan empat anaknya yang merupakan kenalan pertama Michael Brock saat menjadi seorang street lawyer, yang tewas kekurangan oksigen dimobil saat melewati malam musim dingin karena tak punya tempat tinggal.

Ekspose media mengenai kematian Lontae Burton dan empat anaknya tersebar sebagai kegagalan pemerintah menanggulangi kemiskinan dan nama Drake And Sweeney pun dibawa sebagai penyebab tidak langsung dari tragedi tersebut. Drake and Sweeney pun tak tinggal diam, mereka melaporkan Michael Brock  ke polisi sebagai pencuri dan juga mengadukan tindakan tesebut ke asosiasi lawyer Amerika Serikat karena melanggar kode etik. Pilihan sekarang ditangan Michael Brock dan Mordecai Green, apakah menutup kasus tersebut, di satu sisi menganggap tak pernah terjadi pencurian oleh Michael Brock namun disisi lain membenarkan tindakan ilegal pengusuran oleh Drake and Sweeney, dengan kata lain menutup kasus kematian Lontae Burton. Atau melanjutkan kasus ini ke oengadilan dengan cara seorang street lawyer terhadap Drake and Sweeney untuk bertanggung jawab dengan konsekuensi karir Michael Brock sebagai seorang lawyer berakhir karena izinya dapat di cabut.

Dilema

Yang menjadi klimaks dan hal paling menarik didalam novel ini adalah bagaimana penulis menggambarkan dilema yang dialami oleh seorang Michael Brock. Sepertinya kisah seorang Michael Brock lah yang menjadi nyawa dari novel ini, bukan pada kasus atau adegan-adegan courtroom.

“Both of us had law degrees, both of us had passed the same bar exam, both of us fluent in the tongue of legalese. We were kindred to some degree. I help my clients swallow up competitors so the could add more zeros to the bottom line, and for this I would become rich. He helped his clients eat and find a warm bed.”

Salah satu petikan kalimat oleh Michael Brock pada saat dia memikirkan perbedaan antara dia dan Mordecai Green. Sosok Mordecai Green digambarkan sebagai seorang lawyer bagi kaum miskin mendedikasikan hidupnya untuk memberi makan para tuna wisma, dengan gaya street lawyernya berhadapan dengan birokrasi pemerintah untuk mendapatkan kembali hak-hak kliennya yang di tindas oleh negara.  Sedangkan Michael Brock merasa walaupun dia tengah dipuncak karirnya belum memberikan sesuatu yang berarti bagi orang – orang miskin yang selama ini dianggapnya tidak ada.

Permasalahan Michael Brock tak sampai disitu saja. Pilihan ini ternyata tidak hanya menjauhkan dia dari uang tetapi juga dari keluarganya. Istrinya yang tengah meniti karir sebagai calon dokter bedah, melihat tindakan suaminya yang dianggapnya tidak menjanjikan masa depan, menggugat cerai Michael Brock.

Idealisme Tahun Pertama Fakultas Hukum

Novel ini juga menyiratkan banyak sindiran terhadap profesi hukum. Profesi yang sangat angkuh dan berorientasi hanya pada uang. Mengejutkan bagaimana penulis menggambarkan betapa sekolah hukum/fakultas hukum merupakan salah satu pihak yang paling bertanggung jawab atas runtuhnya idealisme profesi pada saat di fakultas hukum dulu.

“During my first year of law school, they took a survey. Over half my class wanted to do public interest law. When we graduated three years latter, everybody went for the money. I don’t know what happened.” “Law school makes you greedy.”

Secara keseluruhan saya katakan novel ini unik dan menarik! Kisah seorang profesional muda yang mempertaruhkan masa depannya untuk kaum miskin ini benar-benar menginspirasi dan dapat memberikan gambaran akan dua dunia lawyer yang berbeda jauh. Bahwa didunia nyata mungkin hal ini sangat sulit terjadi, tapi yaa tidak menurunkan esensi dari cerita yang diangkat. Jelas buku ini sepertinya direkomendasikan untuk lawyer, law student atau siapapun yang bersentuhan dengan hukum. Namun, publik secara umum juga saya yakin akan terhidup dengan bagaiaman John Grisham menceritakan detail demi detail disetiap adegan. Di awal alur dari novel entah mengapa berjalan terasa begitu lambat dan banyak potongan – potongan adegan yang sepertinya kurang menyatu dengan keselurah cerita, namun ending cerita dari novel ini benar-benar membuat saya lupa akan bagian-bagian tersebut. Ending yang sangat pas, bahkan menurut saya salah satu ending buku terbaik yang pernah saya baca. Adegan-adegan seorang street lawyer benar-benar menyegarkan. bagaimana uang bukan lagi hal melekat di profesi seorang lawyer. Spontannya mereka dalam membela hak-hak klienya dan disaat klien mereka mendapatkan kembali hak-haknya dari birokrat pemerintah yang telah merampasnya, disanalah letak martabat seorang street lawyer. The rules governing street law were written by those who practiced it.

Perth 01/12/2011

Follow and Like